Kisah Sedih Banged, Seorang Ayah yang Melamarkan Kerja Untuk Anaknya

Cerita nyata ini aku alamiah seorang diri, kala itu aku menemukan panggilan kerja dari suatu industri swasta. aku tiba pagi – pagi dengan sebab supaya aku tidak terlambat tiba.

hingga ditempat aku juga langsung dipersilahkan masuk oleh penggalan hrd buat menjajaki serangkaian test. sehabis masuk ke rubrik nyatanya disitu sudah terdapat 3 orang yang sudah terdapat. aku juga duduk disebuah sofa yang sudah dipersiapkan.

saat sebelum mengawali rentetan test kerja, kami yang sedan khusyuk mencermati hrd yang lagi mencerahkan, seketika kami dikagetkan dengan seseorang ayah tua yang mengetuk pintu rubrik.

 

kebetulan dikala itu pintu cuma ditutup separuh, terlihat nampak baju yang dipakai ayah itu cukup kumel dan juga tidak layak.

hrd juga mempersilahkan masuk dan juga mempertanyakan iktikad kehadiran ayah tua tersebut.

aku juga terkaget kala ayah tua itu menyodorkan suatu amplop yang aku kira merupakan suatu cv lamaran kerja. setelah itu terjalin obrolan antara hrd dan juga ayah tua tersebut

hrd: “ini apa pak, lamaran? ”

ayah tua: “iya bu itu lamaran kerja”

hrd: “tapi kayaknya usia ayah sudah tidak cukup buat melamar ditempat kami”

ayah tua: “itu bukan buat aku bu, tetapi buat anak saya”

 

hrd: (terdiam) “oh bahwa begitu ayah silahkan tunggu dahulu diluar, aku ingin memandang cv anak ayah, nanti bahwa test hari ini tuntas, aku hendak temui bapak”

aku juga kaget mendengar ayah itu melamar buat anaknya, terlebih lagi dalam hati aku bingung “memang anak ayah itu tidak dapat membagikan lamaran seorang diri, sampai – sampai wajib orang tuanya yang sudah tua renta membagikan lamaran tersebut? ”.

test juga tuntas, sehabis mengumpulkan soal test, aku juga bergegas keluar buat menemui ayah tua tersebut. terlihat ia lagi bengong duduk disebuah sofa sembari memegang kakinya.

dengan kerasa iba aku juga memberanikan diri buat mendekati ayah tua itu. “permisi pak, boleh aku duduk disini? ”

ayah itu juga menoleh aku “oh silahkan dek.. ” sehabis aku dipersilahkan duduk, aku memberanikan diri buat bertanya, sampai terjalin suatu obrolan.

aku: “maaf ya pak bahwa aku lancang, tetapi aku boleh tau gak mengapa ayah seorang diri yang membagikan lamaran kerja tadi, benar anak ayah kemana? ”

ayah tua: (terdiam) “ada dirumah dek”

aku: “loh, mengapa gak ia saja yang tiba kesini? ” aku dengan rada heran

ayah tua itu jawabnya agak lama, aku juga jadi gak lezat bertanya serupa itu, tetapi sehabis sebagian menit setelah itu ia juga bicara “bapak berharap, sehabis anak ayah lulus dia kilat memperoleh pekerjaan, dan juga dapat menolong ayah membiayai adik – adiknya yang masih sekolah, ayah ini sudah tua, udah gak kokoh nyari uang lagi” ayah itu sembari memelas.

aku: “lah benar anak ayah sepanjang ini belum memperoleh pekerjaan? ”

ayah tua: “belum dek, sepanjang ini anak ayah cuma bahagia main dan juga hura – hura sama sahabatnya, sementara itu sudah lama ia lulus sekolah, ayah sudah bilang bahwa ayah sudah tidak kokoh nyari nafkah lagi karna kondisi ayah sudah renta, tetapi senantiasa aja anak ayah malas mencari kerja”

aku: “ya ampun pak, anak ayah tega banget.. bahwa boleh tau pekerjaan ayah apa? ”

ayah tua: “pekerjaan ayah cuma seseorang kuli panggul dipasar dek”

aku miris mendengar bahwa ayah itu kuli panggul dipasar, aku juga ingin tanya lagi, tetapi seketika hrd memanggil ayah itu.

sehabis sebagian menit masuk ke rubrik, ayah itu kesimpulannya keluar. aku juga bergegas bertanya berulang.

aku: “bagaimana pak, diterima? ”

ayah tua: “gak dek” dengan muka memelas

aku: “yang tabah ya pak, nanti aku kabarin bahwa terdapat lowongan ditempat lain. oia ayah kesini naik apa? ”

ayah tua: “makasih ya dek, ayah jalur kaki dari rumah”

buat mempersingkat cerita kesimpulannya ayah itu juga kembali seorang diri. sementara itu ia bilang bahwa jarak rumahnya cukup jauh, sesungguhnya aku gak tega dan juga coba membagikan sisa duit yang aku memiliki buat ongkos ia kembali kerumah.

tetapi ditolak mentah – mentah. andai aku tidak lagi menunggu pengumuman hasil test kerja, tentu aku hendak simaklah ayah itu hingga dirumahnya.

begitu “keterlaluan” anak ayah ini, amat tega dan juga tidak memiliki belas kasihan sama bapaknya. hingga sebegitu jauhnya perjuangan seseorang bapak, dikala dia menyadari bila pribadinya sudah tua, tetapi anaknya seakan senantiasa menggantungkan orang tuanya.

tetapi bapak tua ini seakan turut dan juga mau mendesak anaknya supaya mampu kerja, tetapi anaknya tidak ketahui diri.

huk huk huk… berkecil hati sekali memandang permasalahan ini, tetapi seperti itu realitas yang terdapat, sampai saya dapat menuliskan cerit ini.

kerja itu terdapat masanya, dikala jasmani telah termakan umur hingga jangan “cemburu, iri ataupun benci” bahwa yang muda mengubah yang tua.

dan juga yang tua sepatutnya sudah tidak wajib kerja sebagaimana dia dikala dia muda. tenaga, benak dan juga kesehatan tentu tidak sama dikala muda dengan dikala umur telah renta.

kerja dan juga umur itu terdapat batasnya, tidak selamanya kerja itu terdapat dan juga tidak selamanya umur itu menunjang kerja yang terdapat.

mudah – mudahan terus menjadi tua bukannya terus menjadi berkecil hati, dan juga letih dalam memikirkan kerja, karna senantiasa diburu buru buat memadai nafkahnya, ataupun keluarganya. karna dikala umur telah lanjut hingga yang mudalah yang hendak menggantikannya.

mudah – mudahan dari cerita tersebut kita seluruh dapat mengambil hikmahnya dan juga jadi pelajaran hidup. bagaikan anak jangan sempat sama sekali mempersulit orang tua kita seorang diri.

sayangilah mereka, spesial anak pria mudah – mudahan dapat jadi seorang lebih mandiri dan juga dapat mengayomi adik – adik.

( sumber: renunganislam. com )

About admin

Check Also

Kisah Inspiratif Seorang Kakek yang Sedekahkan 150 Bungkus Nasi Setiap Jum’at

Inilah kisah inspiratif seorang kakek berusia 92 tahun yang selalu sedekah ratusan nasi bungkus di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *